Langsung ke konten utama

Menangkal Iri Hati

Gambar: https://id.wikipedia.org
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: (Mrk. 9:35-36)

Renungan:Teman-teman terkasih, masih ingatkah kita pada akhir kehidupan dari seorang anak bernama Habel? Ia tewas di tangan saudaranya sendiri yakni Kain. Penyebabnya ialah rasa iri hati yang timbul dari dalam diri Kain. Persembahan yang diberikan oleh Kain tidak pernah diindahkan oleh Allah sedangkan Habel selalu diindahkan. Rasa iri ini yang selalu membuat timbulnya dosa. Di dalam diri kita rasa iri juga ada. Apalagi jika bicara mengenai posisi atau jabatan. Pasti rasa iri berkecamuk di dalam diri orang-orang sekelilingnya.

Di dalam bacaan dari kitab kebijaksanaan hari ini, kita melihat bagaimana perasaan iri berkecamuk di dalam diri orang yang membenci kebaikan. Yang diinginkan oleh orang itu hanyalah menghindari diri dari orang yang baik. Karena orang baik bagi mereka hanya akan menghakimi orang-orang yang sama dengan mereka. Oleh sebab itu, mereka memiliki rencana untuk mencobainya. Agar di tengah pencobaan itu mereka bisa melihat kelemahlembutan Allah.

Surat kepada Yakobus membahasnya lebih mendalam. Surat ini membahas mengenai dampak dan bentuk-bentuk perbuatan dari iri hati itu sendiri. Ditekankan dalam surat tersebut bahwa, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yak 3:16). Mengapa akan ada kekacauan dan perbuatan jahat? Karena jika sudah ada iri hati maka beragam cara pun pasti dilakukan. Meski itu pun harus dengan kejahatan. Maka, dengan demikian iri hati itu pasti mengajak teman-teman lainnya seperti kekacauan dan kejahatan.

Di dalam iri hati itu sendiri juga mengajak bentuk-bentuk kelanjutannya seperti sengketa dan pertengkaran? (Yak. 4:1) itu semua datang dari iri hati. Penyebabnya ialah “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yak. 4:2-3). Lalu, bagaimana kita sebagai orang beriman harus menghindarinya?”

Injil hari ini memberikan petunjuk kepada kita untuk menghindar dari perasaan iri kepada sesama. Tuhan Yesus dalam Injil hari ini menegaskan, "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Mrk. 9:37). Mengapa Tuhan Yesus memberikan perumpamaan itu? Karena melalui anak kecil kita dapat belajar bagaimana mereka bermain bersama. Mereka tidak merasa iri satu sama lain. Tetapi mereka sangat senang jika sudah bersama-sama. Mereka tidak memiliki nafsu. Mereka tidak mengingini sesuatu. Mereka tidak mengikuti nafsu. Itulah anak kecil dan mengapa Tuhan Yesus menginginkan kita menjadi anak kecil.

Teman-teman sekalian, iri hati adalah juga salah satu dosa pokok. Mengenai hal ini mari kita belajar bagaimana seharusnya kita bersikap melalui St Gregorius Agung mengatakan bahwa iri hati menimbulkan kedengkian, fitnah, hujat, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungannya. (KGK #2539) Kebajikan yang adalah lawannya adalah kebaikan hati; namun mengingat kesombongan adalah 'ibu dosa' maka kerendahan hati mutlak dibutuhkan juga. (KGK #2540) Maka, marilah kita lebih rendah hati agar dapat menangkal tumbuh dan meradangnya iri hati di dalam diri kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teguran adalah Kasih

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." (Luk. 17:3-4) Renungan: Kita sering melihat orang tua, kakak atau adik, teman atau sahabat berbuat salah. Tetapi, mereka tidak menganggap bahwa perbuatan itu adalah salah. Lalu, kita yang melihat bahwa perbuatan itu salah hanya diam. Karena kita menganggap bahwa itu urusan dia dengan Tuhan. Mereka pun semakin lama semakin sering berbuat salah dan bahkan ketika ditegur, mereka menjawab lebih galak dan lebih keras dari kita yang menegurnya. Tuhan Yesus hari ini mengingatkan pada kita bahwa jika ada saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia. Mengapa harus ditegur? Karena jika hanya menganggap bahwa itu adalah urusan Tuhan, maka kita membuat kesalahan. Yang pasti dari seluruh kisah Kitab Suci, baik itu Perjanjian Lam...

KASIH ADALAH DAYA MEMBANGUN SESAMA

Kejadian 47:20  Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Firaun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Firaun. Oleh : Philipus Vembrey Hariadi Pernah mendengar kisah pengemis yang kaya? Pengemis tersebut dapat menghasilkan jutaan rupiah dari hasil mengemisnya. Pengemis tersebut hanya duduk di pinggir jalan dan menjulurkan tangan. Uang pun tiba di tangan mereka dengan didorong oleh belas kasihan yang timbul dari pemberinya. Namun, apakah ini kasih yang kita mengerti dan pahami selama ini? Dalam kisah dari kitab Kej bab 47 ini, kita mulai diajak untuk berpikir ulang mengenai kasih yang dipahami. Kasih yang dilakukan oleh Yusuf bukanlah kasih yang mencabut kreatifitas orang. Kasih yang diberikan oleh Yusuf ialah kasih yang tidak membiarkan orang lain meninggalkan pekerjaan. Yusuf bisa saja memberikan mereka uang tapi apakah itu menjawab kebutuhan mereka? Mari, kita membagikan ...

Popularitas atau Kerajaan Allah?

Gambar: https://www.bernas.id Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." (Luk. 4:43) Renungan: Teman-teman terkasih, terkadang di dalam suatu mata pelajaran kita menemukan ada seorang teman yang merasa kesulitan. Ia mengeluh merasa kesulitan untuk pokok pembahasan tertentu. Karena rasa iba dan karena kita mampu, maka kita berinisiatif untuk mengajarinya pokok pembahasan yang dirasanya sulit tersebut. Sejam-dua jam akhirnya lama-kelamaan ia semakin mengerti hingga akhirnya mampu menguasai. Tetapi ketika berganti pembahasan, ia pun mengalami kesulitan yang sama. Lalu, kita harus bagaimana? Hari ini Tuhan Yesus berada di rumah Simon. Ia berkunjung ke rumah Simon dan menyembuhkan ibunda Simon yang sedang sakit. Karena Tuhan Yesus berhasil menyembuhkan ibunda Simon, maka ada orang-orang yang meminta disembuhkan. Tidak hanya itu, ada juga orang yang kerasukan dan bisa disembuhkan. Ka...