Langsung ke konten utama

Mematikan Perbuatan-perbuatan Daging

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (Rm. 8:13-14)
Renungan:
Saat pulang dari Gereja ibu Maria bertemu dengan ibu Alex. Ibu Alex mengatakan bahwa nanti malam akan ada doa rosario lingkungan di rumah pak Dewa. Mendengar perkataan ibu Alex itu, ibu Maria mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sesampainya di rumah, ibu Maria ditegur oleh suaminya. “Nanti malam mau doa rosario di rumah pak Dewa? Aku juga mau ikut.” Tetapi ibu Maria menjawab, “tidak mau. Karena pak Dewa itu sombong dan pelit.”

Bapak-dan ibu sekalian, Rasul Paulus kepada jemaatnya di Roma mengatakan, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Di sini Paulus mau kita lepas dari keterikatan kita pada keinginan daging. Keinginan daging itu ialah segala bentuk keburukan yang dibungkus dengan kenikmatan. Salah satu bentuknya ialah kebencian. Kebencian bagi beberapa orang enak dan nyaman. Karena dengan membenci maka kita tidak perlu lagi hidup dengan susah payah menuruti atau memantau kehidupan orang yang kita benci tersebut. Padahal hal itu adalah perbuatan daging yang memisahkan kita dengan Allah.

Allah mau kita dipimpin oleh-Nya. Jika Allah yang memimpin, maka konsekuensinya ialah tidak ada lagi kebencian, amarah dan kekerasan. Yang ada di dalamnya hanyalah kasih. Karena dengan itu semua Allah mengembangkan diri kita semua dengan pengetahuan dan pengalaman yang baru. Kebencian atau hidup menurut daging hanya mengembangkan dan memanjakan tubuh kita tetapi tidak dengan pengetahuan dan pengalaman diri kita bersama cinta kasih Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teguran adalah Kasih

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." (Luk. 17:3-4) Renungan: Kita sering melihat orang tua, kakak atau adik, teman atau sahabat berbuat salah. Tetapi, mereka tidak menganggap bahwa perbuatan itu adalah salah. Lalu, kita yang melihat bahwa perbuatan itu salah hanya diam. Karena kita menganggap bahwa itu urusan dia dengan Tuhan. Mereka pun semakin lama semakin sering berbuat salah dan bahkan ketika ditegur, mereka menjawab lebih galak dan lebih keras dari kita yang menegurnya. Tuhan Yesus hari ini mengingatkan pada kita bahwa jika ada saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia. Mengapa harus ditegur? Karena jika hanya menganggap bahwa itu adalah urusan Tuhan, maka kita membuat kesalahan. Yang pasti dari seluruh kisah Kitab Suci, baik itu Perjanjian Lam...

ALLAH AKAN MEMBERIKAN ANUGERAH

"Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku." (Kej 21:6) Oleh Philipus Vembrey Hariadi Dalam menghadapi setiap masalah, terkadang kita terlalu mengandalkan diri sendiri. Ketika kita menghadapi benturan yang keras dalam masalah tersebut, kita mengalami kebuntuan. Seakan-akan kita tidak lagi mampu berbuat apa pun. Padahal dalam masalah tersebut, kita diajak berkembang bersama sesama dan Allah. Tetapi terkadang kita lupa akan hal tersebut, sehingga kita merasakan bahwa masalah itu berat. Di sana kita terkadang terjebak pada satu pemikiran bahwa tidak mungkin saya bisa meninggalkan masalah tersebut. Kita pun menolak tindakan dalam penyelamatan dalam menghadapi masalah itu. Di dalam Kitab Kejadian bab 21, Allah membuktikan janji kepada Abraham. Sara mengandung seorang anak dan anak tersebut diberikan nama Ishak. Sara tidak mempercayai anugerah itu, sehingga Sara menyatakan bahwa semua orang yang mendengar hal tersebut seakan tidak...

Tujuan diadakannya Hukum menurut Allah

Gambar: http://allah-tuhan-ku.blogspot.co.id Tuhan berfirman kepada Musa: “naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.” (bdk. Kel. 24:12) Suatu kali ada sang raja dari sebuah kota entah berantah berkeliling kota. Di sana ia melihat cara hidup penduduknya yang tidak teratur dan berantakan. Ada seorang anak yang tidak bersekolah. Ada juga perkelahian antara pribadi yang satu dengan yang lain. Tidak hanya itu banyak sekali peristiwa kejahatan yang terjadi di kota tersebut. Di tengah kondisi yang seperti itu, seorang staffnya memberikan saran. “Sepertinya kita butuh membuat suatu peraturan untuk mengatasi ini tuanku,” kata staffnya tersebut. Sang raja hanya terdiam. Ia hanya terpaku melihat keadaan yang demikian. “Jika memang tuanku membutuhkan suatu peraturan, maka saya sudah menyediakannya untuk tuanku,” saran staffnya. Sang raja hanya te...